BAB 1
GAMBARAN UMUM SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN
A. DEFINISI
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM)
Sistem
informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan
terkoordinasi dan secara rasional
terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat
serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan
sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.
Perancangan,
penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya
yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa faktor yang membuat SIM
menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan
lingkungan bisnis yang semakin rumit. Salah satu alasan dari kerumitan ini
adalah semakin meningkatnya dengan muncunya peraturan dari pemerintah.
B. Pengertian
Model Pengambilan Keputusan
1.
Untuk mengetahui apakah
hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap
masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu.
2.
Untuk memperjelas (secara
eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara unsur-unsur itu.
3.
Untuk merumuskan hipotesis
mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variabel. Hubungan ini biasanya
dinyatakan dalam bentuk matematika.
4.
Untuk memberikan
pengelolaan terhadap pengambilan keputusan. Model merupakan alat penyederhanaan
dan penganalisisan situasi atau system yang kompleks. Jadi dengan model,
situasi atau sistem yang kompleks itu dapat disederhanakan tanpa menghilangkan
hal-hal yang esensial dengan tujuan memudahkan pemahaman. Pembuatan dan
penggunaan model dapat memberikan kerangka pengelolaan dalam pengambilan
keputusan.
Olaf Helmer menyatakan bahwa:
karakteristik dari konstruksi. Model adalah abstraksi, elemen-elemen tertentu
dari situasi yang mungkin dapat membantu seseorang menganalisis keputusan dan
memahaminya dengan lebih baik. Untuk mengadakan abstraksi, maka pembuatan model
sering kali dapat meliputi perubahan konseptual. Setiap unsur dari situasi
nyata merupakan tiruan dengan menggunakan sasaran matematika atau sasaran
fisik.
Pembuatan dan penggunaan model menurut Kast, memberikan
kerangka pengelolaan. Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan
situasi atau system yang kompleks. Jadi dengan menggunakan model situasi yang
kompleks disederhanakan tanpa penghilangan hal-hal yang esensial dengan tujuan
untuk memudahkan pemahaman.
Berdasarkan pendekatan ilmu manajemen untuk memecahkan masalah digunakan
model matematika dalam menyajikan system menjadi lebih sederhana dan lebih
mudah dipahaminya. Pada umumnya model itu memberikan sarana abstrak untuk
membantu komunikasi. Bahasa itu sendiri merupakan proses abstraksi, sedangkan
matematika merupakan bahasa simbolik khusus.
C. Model-Model Pengambilan Keputusan
1.
Menggunakan pendekatan
yang sifatnya pragmatis, yaitu melihat hasil yang dicapai. Jika hasil yang
dicapai sesuai dengan harapan dan keinginan, keputusan yang diambil dapat
dikatakan sebagai keputusan yang baik, dan sebaliknya. Secara pragmatis,
beberapa tolok ukur tambahan yang dapat dan biasa digunakan dalam menilai tepat
tidaknya suatu keputusan antara lain:
a.
Mutu keputusan yang
diambil dalam arti penggabungan yang tepat antara rasionalitas dan kreativitas oleh
pengambil keputusan.
b.
Dipertimbangkannya
berbagai alternatif yang wajar dan relevan untuk dipertimbangkan.
c.
Tersedianya informasi yang
relevan, mutakhir, dapat dipercaya dan lengkap serta digunakan sebgai dasar
untuk melakukan analisis yang diperlukan.
d.
Pemanfaatan yang ekonomis
dari berbagai sumber daya, dana, dan tenaga dalam proses pengambilan keputusan.
e.
Akseptabilitas keputusan
yang diambil oleh mereka yang diharapkan akan menjalankan keputusan tersebut
dan oleh mereka yang akan terkena oleh keputusan yang diambil.
2.
Menggunakan pendekatan
yang sifatnya prosedural. Dalam hal ini yang dinalai adalah proses tau tata
cara yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Cara inilah yang menyangkut
model dan teknik pengambilan keputusan. Yang dilakukan ialah meniali suatu
keputusan baik atau tidak berdasarkan cara yang ditempuh untuk menjatuhkan
piihan. Apabila seorang pengambil keputusan telah mengidentifikasikan dan
mempertimbangkan semua alternatif yang secara sadar dibatasi, dan telah melalui
semua langkah dalam proses pengambilan keputusan, serta menerima konsekuensi
tindakan yang diambil, proses pengambilan keputusan demikian dapat dipandang
sebagai proses yang tuntas.
Ada beberapa model dan teknik pengambilan keputusan
1.
Model Optimasi
Sasaran yang ingin dicapai
dengan model optimasi adalah bahwa dengan mempertimbangkan keterbatasan yang
ada, organisasi memperoleh hasil terbaik yang paling mungkin dicapai. Sikap
pengambil keputusan, norma-norma serta kebijaksanaan organisasi berperan penting
dalam menentukan kriteria apa yang dimaksud dengan hasil terbaik yang mungkin
dicapai itu.
Menurut
Rainey (1991) rasionalitas memiliki arti dan dimensi yang bermacam-macam,
tetapi dalam ilmu-ilmu sosial rasionalitas itu meliputi komponen-komponen sebagai
berikut:
a. Para pembuat
keputusan mengetahui secara jelas tujuan-tujuannya secara relevan.
- Pembuat keputusan mengetahui dengan jelas
kriteria untuk menilai tujuan-tujuan itu dan dapat menyususn peringkat
dari tujuan-tujuan tersebut.
- Mereka memeriksa semua alternatif untuk
mencapai tujuan mereka.
- Mereka memilih alternatif yang paling
efisien untuk memaksimalkan pencapaian tujuan.
Langkah-Langkah
Dalam Model Optimasi
Setiap
keputusan yang diambil itu merupakan perwujudan kebijakan yang telah digariskan.
Oleh karena itu, analisis proses pengambilan keputusan pada hakikatnya sama
saja dengan analisis proses kebijakan. Proses pengambilan keputusan meliputi :
1. Lakukan kebutuhan akan suatu
keputusan
2. Menentukan kriteria yang
diputuskan
3. Menentukan kriteria yang
berbobot
4. Mengembangkan alternatif
5. Menilai beberapa alternatif
6. Memilih alternative
Kelebihan dan Kelemahan Model
Optimasi atau Rasional
1.
Kelebihan dari teknik pengambilan keputusan
model optimasi, antara lain:
a.
Dapat memfokuskan diri pada pengumpulan data
dan kriteria yang telah ditetapkan.
b.
Dapat mengurangi subyektifitas, yaitu mengambil
keputusan berdasarkan opini seseorang.
c.
Efisien, karena berdasarkan pemilihan
alternatif yang terbaik.
2. Kekurangan dari teknik pengambilan keputusan
model optimasi, antara lain:
a.
Diasumsikan atau dianggap bahwa ada pengetahuan
yang telah dihasilkan.
b.
Model optimasi ini tidak dinamis, harus
mengikuti langkah-langkah yang terkait
c.
Dimunculkan sebagai obyektif namun
pengambilan keputusan oleh siapapun membutuhkan justifikasi pribadi (tidak
bebas nilai).
2. Model satisficing
Salah satu perkembangan
baru dalam teori pengambilan keputusan ialah berkembangnya pendapat yang
mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan hasil
dengan menggunakan berbagai kriteria yang telah dibahas diawal. Tidak dapat
disangkal bahwa aksentuasi pada pendekatan kuantitatif mempunyai tempat dalam
pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan tidak dapat didekati semata-mata
dengan prosedur yang sepenuhnya didasarkan pada rasionalitas dan logika.
Kenyataan sering menunjukan bahwa para pengambil keputusan tidak selalu
berpikir dalam kerangka pertanyaan: “ Alternatif- alternatif apa yang tersedia,
informasi yang bagaimana yang diperlukan, serta analisis bagaimana yang
diperlikan sehingga pilihan dapat dijatuhkan pada alternatif yang paling
tepat?” Memang sukar membayangkan adanya situasi dimana seorang pengambil
keputusan dapat memastikan semua konsekuensi tindakan yang akan diambil, baik
yang menguntungkan maupun tidak.
Ada dua alasan pokok untuk
mengatakan yang demikian itu:
a. Memang tidak mungkin informasi yang relevan, mutakhir, lengkap dan dapat
dipercaya selalu tersedia.
b. Tidak semua kemungkin tentang semua konsekuensi yang akan timbul dapat
diperkirakan secara tepat sebelumnya.
Model satisficing berarti pengambil keputusan
memilih alternative solusi pertama yang memenuhi criteria keputusan minimal.
Dengan tidak berusaha untuk mengejar seluruh alternative untuk mengidentifikasi
solusi tunggal untuk memaksimalkan pengembalian ekonomi, manajer akan memilih
solusi pertama yang muncul untuk memecahkan masalah, bahkan jika solusi yang
lebih baik diperkirakan akan ada kemudian. Pengambil keputusan tidak dapat
menjustifikasi waktu dan pengorbanan untuk mendapatkan kelengkapan informasi. Masalah kompleks disederhanakan
(hanya mengambil inti masalahnya saja / bounded rationality) sampai pada
tingkat dimana pengambil keputusan siap menyelesaikannya.
Model satisficing, para pengambil keputusan merasa cukup bangga dan puas apabila keputusan
yang diambilnya membuahkan hasil yang memadai, asalkan persyaratan minimal
tetap terpenuhi. Ide pokok dari model ini adalah bahwa usaha ditujukan pada apa
yang mungkin dilakukan “sekarang dan disini” dan bukan pada sesuatu yang
mungkin optimal tetapi tidak realistis dan oleh karenanya tidak mungkin
dicapai. Model ini terdapat dua keyakinan:
a.
Ketidakmampuan pengambil
keputusan untuk menganilisis semua informasi.
b.
Pada tahap tertentu dalam
proses pengambilan keputusan , timbul berbagai beban yang tidak dapat dipikul dalam bentuk waktu, uang, tenaga, dan frustasi dalam usaha
memperoleh informasi tambahan.
Dalam penggunaan model satisficing tetap ada tempat bagi
pertimbangan berbagai jenis alternatif yang mungkin ditempuh. Berbeda dengan
model optimasi, yang membandingkan berbagai alternatif untuk melihat kelebihan
dan kekurangan masing-masing, dalam model satificing setiap alternatif dinilai
tanpa terlalu memikirkan perbandingannya dengan alternatif-alternatif lain.
Terdapat empat cara untuk membedakan model satisficing dengan optimasi:
a.
Dalam menguji suatu
tindakan yang akan diambil hanya beberapa atau bahkan hanya satu persyaratan
yang dipertimbangkan, sedangkan pertimbangan- pertimbangan lain tidak
diperhitungkan lagi.
b.
Berbagai alternatif diuji
secara berurut dan apabila ditemukan satu alternatif yang dipandang memadai,
usaha untuk mencari alternatif lain dihentikan.
c.
Secara sadar jumlah
alternatif dibatasi, dan pengujian terhadap setiap alternatif dilakuka secara acak.
d.
Pertimbangan menyetujui
atau menolak tidak dikaitkan satu sama lain, melainkan diuji secara independen.
Semua alternatif diperlakukan sama, yang berati bahwa keputusan yang ditangani
dengan cara yang sama seperti halnya keputusan yang kurang penting.
Macam- macam variasi model satisficing:
a.
Ketentuan keputusan tunggal. Pendekatan ini sering dapat menarik
untuk diterapkan, terutama karena proses pengambilan keputusan berlangsung
dengan cepat dan dengan hasil yang dapat diperhitungkan sebelumnya.
b. Variasi eliminasi segi-segi tertentu. Variasi ini bertitik tolak dari usaha
penyempitan terhadap pilihan dari berbagai alternatif yang mungkin dipilih.
Artinya, suatu kombinasi dari ketentuan keputusan tunggal digunakan secara cepat untuk memilih beberapa
alternatif kunci yang dipandang memenuhi syarat-syarat minimal.
c. Variasi Inkrementasi. Variasi ini berarti pemikiran dipusatkan pada
pengurangan dampak berbagai kelemahan nyata dan yang harus segera dihadapi oleh
organisasi. Paham inkremental ini juga cukup rcalistis
karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang
pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan
analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan
masalah-masalah yang ada. akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa
kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misalnya, keputusan-keputusan
yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inkremental akan lebih mewakili
atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat dan
mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam
masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang
lemah dan yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya
praktis akan terabaikan.
Model
satisficing ini logis dan rasional dalam batas yang sempit dikarenakan
informasi tidak sempurna, kendala waktu, biaya, dan keterbatasan pemahaman.
3.
Model Mixed Scanning
Scanning berarti usaha mencari, mengumpulkan, memproses,
menilai, dan menimbang-nimbang informasi dalam kaitannya dengan menjatuhkan
pilihan tertentu. Model mixed scanning berarti bahwa setiap kali seorang
pengambil keputusan mengahadapi dilemma dalam memilih suatu langkah tertentu,
satu keputusan pendahuluan harus dibuat tentang sampai sejauh mana berbagai
sarana dan prasarana organisasi akan digunakan untuk mencari dan menilai
berbagai fungsi dan kegiatan yang akan dilaksakan. Para ahli berpendapat bahwa,
dalam penggunaan model ini keputusan- keputusan yang fundamental dibuat setelah
terlebih dahulu melakukan pengkajian terhadap berbagai alternatif yang paling
relevan, yang kemudian dikaitkan dengan tujuan dan sasaran organisasi.
Unsur-unsur dari pendekatan yang rasional dan incremental digabungkan, dan
penggabungan ini dipandang dapat saling isi mengisi, dalam arti kelebihan
pendekatan yang rasional memperkuat kelebihan pendekatan yang inkremental.
Model
pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat
keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar
kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna
mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya
untuk melakukan scanning dan semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif
pengambilan keputusa tersebut. Dengan demikian, model pengamatan terpadu ini
pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan
model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam proses pengambilan
keputusan.
Keputusan
ini dimungkinkan membuat keputusan-keputusan besar yang mempunyai dampak jangka
panjang, dan juga keputusan-keputusan dengan ruang lingkup terbatas. Mereka
dapat menggabungkan kedua perspektif tersebut, yaitu yang berjangka panjang dan
luas dengan yang sempit bertahap dengan maksud mencegah mereka membuat
keputusan inkremental yang kurang melihat jauh ke depan.
Contohnya :
Saat kita memutuskan untuk pindah kerja ( resign ), pasti kita
akan berpikir jauh, apakah di tempat kerja yang baru nanti akan lebih baik dari
yang sekarang, pastinya kita tidak mau gegabah dengan mengambil keputusan
secara cepat, karena dampaknya pasti aka nada penyesalan jika nantinya tidak
sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu kita pasti akan memikirkannya
matang-matang dalam membuat keputusan tersebut.
4.
Model Heuritis
Pada hakikatnya model ini berarti, bahwa faktor-faktor
internal yang terdapat dalam diri seseorang pengambil keputusan lebih berpengaruh
dari pada faktor- faktor eksternal. Dengan kata lain, seorang pengambil
keputusan lebih mendasarkan keputusannya pada konsep-konsep yang dimilikinya,
berdasarkan persepsi sendiri tentang situasi problematic yang dihadapi. Dalam
praktek model ini digunakan apabila para pengambil keputusan tidak tersedia
kemampuan untuk melakukan pendekatan yang matematikal atau apabila bagi
pengambil keputusan tidak tersedia kesempatan untuk memanfaatkan berbagai
sumber oraganisasional untuk melakukan pengkajian yang sifatnya kuantitatif.
Pemilihan model tertentu
Model pengambilan keputusan memang beraneka ragam, namun perlu diperhatikan
bahwa tidak ada satu model pun yang cocok digunakan untuk mengatasi semua jenis
situasi problematik yang dihadpi oleh organisasi. Karena itu kemahiran yang
perlu dikembangkan oleh para pengambil keputusan ialah memilih secara tepat
satu atau gabungan beberapa model, dan menyesuaikannya dengan tuntutan situasi
yang dihadapi. Alasan mengapa para pengambil keputusan cenderung memilih model
pengambilan keputusan yang sederhana ialah karena mereka tidak bisa tidak
harus mempertimbangkan berbagai faktor intern, terutama nilai-nilai
organisasional yang dianut dan berbagai kebijaksanaan yang telah ditetapkan
oleh para manajer yang lebih tinggi kedudukannya.
3.
SIM DIMATA PEMAKAI
Kebanyakan pemakai sistem informasi
manajemen berdasarkan komputer adalah sebagai berikut:
- Petugas
administrasi -> Mengerjakan transaksi, mengolah data, dan menjawab
pertanyaan.
- Manajer
tingkat bawah -> Mendapatkan data operasi. Membantu perencanaan,
penjadualan, mengetahui situasi yang tak terkendali, dan mengambil
keputusan.
- Staf
ahli Informasi -> untuk analisis. Membantu dalam analisis, perencanaan
dan pelaporan.
- Manajemen
-> Laporan tetap Permintaan informasi khusus, Analisis khusus, Laporan
khusus, Membantu dalam mengenali persoalan dan peluang, Membantu dalam
analisis pengambilan keputusan.
Petugas administrasi dapat merasakan
bertambahnya kebutuhan akan masukan (input) pada saat upaya SIM dimulai dan
sebuah data base sedang disusun. Prosedur baru untuk mengendalikan data akan
ditetapkan. Proses administrasi akan berubah dengan memakai
alat-alat online seperti unit peraga, alat pencetak, dan alat untuk memasukkan data. Para petugas di seluruh bagian organisasi akan diminta melaporkan informasi yang sebelumnya mereka simpan dalam arsip atau “catatan rahasia” mereka sendiri.
alat-alat online seperti unit peraga, alat pencetak, dan alat untuk memasukkan data. Para petugas di seluruh bagian organisasi akan diminta melaporkan informasi yang sebelumnya mereka simpan dalam arsip atau “catatan rahasia” mereka sendiri.
4. Komponen Sistem Informasi
Manajemen
Sistem
informasi manajemen adalah seluruh elemen yang membentuk suatu sistem
informasi. Komponen sistem informasi terbagi menjadi dua yaitu komponen Sistem
informasi manajemen secara fungsional dan sistem informasi manajemen secara
fisik
1.
Komponen Sistem Informasi Manajemen Secara Fungsional
Komponen sistem informasi adalah seluruh komponen yang
berhubungan dengan teknik pengumpulan data, pengolahan, pengiriman,
penyimpanan, dan penyajian informasi yang dibutuhkan untuk manajemen, meliputi:
a. Sistem Administrasi dan
Operasional
Sistem ini melaksanakan
kegiatan-kegiatan rutin seperti bagian personalia, administrasi dan sebagainya
dimana telah ditentukan prosedur-prosedurnya dan sistem ini harus diteliti
terus menerus agar perubahan-perubahan dapat segera diketahui.
b. Sistem
Pelaporan Manajemen
Sistem ini merupaka sistem yang
memiliki fungsi untuk membuat dan menyampaikan laporan laporan yang bersifat
periodik kepada para pengambil keputusan,sehingga para pengambil keputusan
memiliki bahan-bahan atau informasi-informasi yang di perlukan untuk mengambil
keputusan dengan benar.
c. Sistem Database
Database
adalah suatu pengorganisasian sekumpulan data yang saling terkait sehingga
memudahkan aktivitas untuk memperoleh informasi. Basis data yang dimaksudkan
untuk mengatasi problem pada sistem yang memakai pendekatan bebasis berkas
Sistem Database berfungsi sebagai
tempat penyimpanan data dan informasi oleh beberapa unit organisasi, dimana database
mempunyai kecenderungan berkembang sejalan dengan perkembangan organisasi,
sehingga interaksi antar unit akan bertambah besar yang menyebabkan informasi
yang dibutuhkan juga akan semakin bertambah.
Untuk mengelola basis data
diperlukan perangkat lunak yang di sebut DBMS . DBMS adalah perangkat lunak
sistem yang memungkinkan para pemakai membuat,memelihara, mengontrol, dan
mengakses basis data dengan cara yang praktis dan efesien.
d. Sistem Pencarian
Berfungsi memberikan data atau informasi yang dibutuhkan dalam
pengambilan keputusan sesuai dengan permintaan dan dalam bentuk yang tidak
terstruktur.
e. Manajemen Data
Manajemen Data adalah bagian dari manajemen sumber daya
informasi yang mencakup semua kegiatan yang memastikan bahwa data:
1. Data Akurat
2. Up to Date (Mutakhir)
3. Aman
4. Tersedia bagi pemakai (user)
Berfungsi sebagai media penghubung antara komponen-komponen
sistem informasi dengan database dan antara masing-masing komponen
sistem informasi.
2.
Komponen Sistem Informasi Manajemen
Secara Fisik
Komponen Sistem Informasi Manajemen
secara fisik
adalah keseluruhan perangkat dan peralatan fisik yang digunakan untuk
menjalankan sistem informasi manajemen. Komponen-komponen tersebut meliputi:
a. Perangkat keras:
Perangkat keras adalah salah satu
komponen dari sebuah komputer yang sifat alat nya bisa dilihat dan diraba oleh
manusia secara langsung atau yang berbentuk nyata, yang berfungsi untuk
mendukung proses komputerisasi.
Hardware dapat bekerja berdasarkan
perintah yang telah ditentukan ada padanya, atau yang juga disebut dengan
dengan istilah instruction set. Dengan adanya perintah yang dapat dimengerti
oleh hardware tersebut, maka hardware tersebut dapat melakukan berbagai
kegiatan yang telah ditentukan oleh pemberi perintah.
Hardware memiliki komponen pokok
yaitu :
- Input
- Pemrosesan (CPU)
- Penyimpanan
- Output
b. Perangkat lunak
Jika perangkat keras adalah komponen
yang nyata yang dapat diliat dan disentuh oleh manusia, maka software atau
Perangkat lunak tidak dapat disentuh dan dilihat secara fisik..
Software adalah sekumpulan data
elektronik yang disimpan dan diatur oleh komputer, data elektronik yang
disimpan oleh komputer itu dapat berupa program atau instruksi yang akan
menjalankan suatu perintah. melalui sofware atau perangkat lunak inilah suatu
komputer dapat menjalankan suatu perintah
Perangkat Lunak dibagi menjadi 3 :
- Sistem perangkat lunak umum,
seperti siste1. sistem pengoperasian dan sistem manajemen data yang
memungkinkan pengoperasian sistem computer
- Aplikasi perangkat lunak umum,
seperti model analisis dan keputusan
- Aplikasi perangkat lunak yg
terdiri atas program yang secara spesifik dibuat untuk setiap aplikasi
c. DataBase
Database berfungsi sebagai tempat
penyimpanan data dan informasi oleh beberapa unit organisasi, dimana database
mempunyai kecenderungan berkembang sejalan dengan perkembangan organisasi,
sehingga interaksi antar unit akan bertambah besar yang menyebabkan informasi
yang dibutuhkan juga akan semakin bertambah.
Tujuan utama dari database adalah:
1. Menghindari pengulangan data (redudansi)
2. Mencapai indepedensi
data (kemampuan untuk membuat perubahan dalam stuktur data tanpa membuat
perubahan pada program yang memproses data. Indepedensi data dicapai dengan
menempatkan spesifikasi dalam table dan kamus yang terpisah secara fisik dari
program.
d. Prosedur pengoperasian
Prosedur merupakan komponen fisik karena prosedur disediakan
dlm bentuk fisik seperti buku panduan & instruksi, terdiri dari 3 jenis
prosedur
1. Instruksi
untuk pemakai, cara yang diperlukan bagi pemakai untuk mendapatkan informasi
yang akan digunakan
2. Instruksi
penyiapan data sebagai input
3. Instruksi
operasional
e. Personalia pengoperasian
1. Operator
2. Programmer
3. Analisa sistem
4. Personalia penyiapan data
5. Koordinator operasional SIM dan pengembangannya.
4. Kesimpulan
Untuk membentuk sebuah sistem
informasi manajeman dibutuhkan komponen-komponen yang membentuk SIM diantaranya
adalah Komponen
Sistem Informasi Manajemen Secara Fungsional & Komponen Sistem Informasi
Manajemen Secara Fisik
5. Saran
Agar sistem informasi
manajemen dapat di jalankan dengan baik maka kita harus memperhatikan
komponen-komponen dan pendukung sistem informasi manajemen tersebut
Sistem informasi terdiri dari
sekelompok komponen yang saling berhubungan, bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input
serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur
(Ladjamudin, 2005).
0 komentar:
Posting Komentar